Taman Nasional Ujung Kulon

Seperti namanya, Taman Nasional Ujung Kulon berada di ujung barat (kulon berarti barat) Pulau Jawa. Secara administratif, kawasan ini berada di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Kekayaan alamnya sangat unik dan dipercaya menjadi habitat terakhir Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) yang kini terancam punah.

Taman Nasional ini memiliki sejarah yang panjang. Mulai diperkenalkan kepada dunia ilmiah oleh Franz W. Junghuhn pada tahun 1846, kawasan ini juga menjadi saksi sejarah kedahsyatan letusan Gunung Krakatau di tahun 1883 yang mengakibatkan gelombang tsunami setinggi 15 meter menerjang kawasan ini. Walaupun sempat porak poranda akibat letusan gunung dan tsunami tersebut, ekosistem Ujung Kulon dapat pulih dengan cepat, hingga ditetapkan sebagai kawasan Suaka Alam oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1921. Hingga kini, kawasan Taman Nasional Ujung Kulon masih memegang peranan penting dalam kelestarian plasma nutfah yang sangat berharga bagi kita.

Peranan ini membuat Taman Nasional Ujung Kulon kini terdaftar sebagai salah satu Situs Warisan Dunia (World Heritage Site). Nilai utama kawasan ini dalam statusnya sebagai Situs Warisan Dunia adalah belantara Ujung Kulon yang merupakan relik hutan dataran rendah Pulau Jawa yang masih sangat lestari, asli dan perawan. Selain itu, kawasan ini juga sangat berharga bagi kelestarian satwa sebagai satu-satunya habitat asli bagi Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) untuk hidup secara alami.

Pengamatan hewan langka ini menjadi tantangan tersendiri di Taman Nasional Ujung Kulon, mengingat jumlah populasinya yang kecil, sangat lambat dalam berkembang biak, dan sifat alaminya yang pemalu. Para pengamat harus naik ke atas ranggon atau panggung dari bambu setinggi 5 – 7 meter untuk menyaksikan badak bercula satu ini. Pengamatan satwa ini bisa dilakukan di wilayah Cikeusik dan Citadahan. Walaupun sangat sulit, perjumpaan dengan satwa eksotis ini bukan merupakan sesuatu yang mustahil.

Kegiatan Konservasi di Taman Nasional Ujung Kulon

Dengan luas mencapai 122.956 Ha, Taman Nasional Ujung Kulon memiliki bentang alam yang beragam, dari mulai hutan hujan tropis dataran rendah, hutan rawa air tawar, hutan mangrove, hingga wilayah perairan yang asri. Ragam bentang alam ini membuat kawasan taman nasional ini sangat kaya akan keragaman hayati. Sedikitnya ada 700 jenis flora dan 500 jenis fauna yang tinggal di dalam kawasan taman nasional.

Dari jumlah tersebut, Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan satwa dengan perhatian utama kegiatan konservasi di Taman Nasional Ujung Kulon. Populasinya diperkirakan hanya ada sekitar 50-60 ekor saja, hingga spesies ini diklasifikasikan sebagai sangat terancam (critically endangered) dalam Daftar Merah IUCN. Selain populasinya yang terbatas, spesies ini juga sangat lamban dalam beranak-pinak. Malah menurut para pakar, laju pertumbuhan spesies ini negatif, rata-rata minus 0,7 per tahun. Kabar baiknya, sudah tidak ditemukan lagi kasus-kasus perburuan badak bercula ini sejak tahun 1990 setelah upaya penegakan hukum dilakukan secara efektif oleh otoritas Taman Nasional; dengan bantuan banyak inisiatif dari para aktivis pemerhati alam. Setelah upaya perlindungan dilakukan dengan ketat, jumlah populasi Badak Jawa saat ini cukup stabil dengan angka maksimum pertumbuhan populasi 1% per tahun.

Selain badak bercula satu tersebut, Taman Nasional Ujung Kulon juga menjadi habitat bagi beberapa fauna lain yang dilindungi, seperti Owa Jawa (Hylobates moloch)Surili (Presbytis aigula)dan Anjing hutan (Cuon alpinus javanicus). Dapati ditemui juga beberapa spesies lain yang khas dengan ekosistemnya, seperti Banteng (Bos javanicus) dan Merak (Pavo muticus) di Padang Penggembalaan, Buaya Rawa (Crocodylus porosus) dan Biawak (Varasus salvator) di daerah rawa dan muara, serta Penyu Hijau (Chelonia mydas) di daerah pantai dan perairan.

Dengan ekosistem yang sangat kaya tersebut, Taman Nasional Ujung Kulon akan selalu menjadi kawasan konservasi yang penting bagi Indonesia, bahkan bagi dunia.

Kegiatan Wisata di Taman Nasional Ujung Kulon

Seperti Taman Nasional Alas Purwo di ujung timur Jawa, Taman Nasional di ujung barat Jawa ini juga memiliki area perairan yang indah dan asri. Malah ada juga beberapa pulau yang biasa digunakan untuk pariwisata, seperti Pulau Peucang, Pulau Handeuleum, dan Pulau Panaitan. Banyak pula kegiatan wisata yang dapat dilakukan, dari mulai pengamatan satwa liar, menikmati suasana pantai, trekking di dalam hutan, mengarungi sungai dengan kano, hingga snorkeling dan diving di area perairannya.

Salah satu destinasi yang paling sering dikunjungi adalah Pulau Peucang. Pulau seluas 450 Ha ini memiliki pantai yang cantik, dan laut dengan gugusan karang dan kehidupan bawah laut yang indah, sehingga cocok untuk kegiatan snorkeling dan diving. Di pulau ini juga wisatawan dapat bercengkrama dengan rusa (Russa timorensis) dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang banyak berkeliaran. Sebagai salah satu pusat pariwisata di kawasan ini, Pulau Peucang telah dilengkapi berbagai fasilitas penunjang pariwisata, seperti penginapan, dermaga, pusat informasi, dan komunikasi.

Di pulau yang lainnya, Kepulauan Handeuleum dan Pulau Panaitan, juga menawarkan atraksi wisata yang tidak kalah menarik. Di Kepulauan Handeuleum, pengunjung dapat mengarungi sungainya dengan menggunakan kano, diantara kepulauan kecil di Handeuleum. Selama berkano, pengunjung akan memperoleh pengalaman yang tidak terlupakan. Di Pulau Panaitan, pengunjung dapat memperoleh spot yang sangat bagus untuk olahraga selancar dan menyelam. Pulau Panaitan yang memiliki luas 17.500 Ha ini memiliki beberapa spot diving (menyelam) seperti Legon Lentah dan Legon Kadam di Pantai Utara serta Legon Samadang dan Karang Jajar di Pantai Selatan pulau ini. Di pulau ini, para peselancar juga memiliki spot tersendiri untuk menjajal tantangan gelombang ombaknya.

Selain kekayaan lautnya, tentu pengunjung juga dapat menikmati kekayaan alam hutannya. Wisatawan dapat mengamati kawanan satwa liar di padang penggembalaan Cidaon dan padang penggembalaan Cibunar. Di kawasan ini, ada beberapa jenis fauna yang dapat diamati, seperti Banteng, Merak, Ayam hutan, Babi hutan, dan Kera ekor panjang. Pengunjung dapat menikmati pemandangan dan melakukan pengamatan satwa ini dari menara pengintai menggunakan teropong/binokuler. Pengunjung dapat menikmati suasana hutan ketika melakukan trekking dari Cidaon ke Cibunar, serta melihat vegetasi pakan badak.

Tidak hanya kekayaan alam, Taman Nasional Ujung Kulon juga memiliki kekayaan budaya yang dianut masyarakat sekitarnya. Salah satu gua di kawasan ini, Gua Sanghyangsirah, sering diziarahi masyarakat, terutama pada bulan Muharram dan saat Maulid Nabi. Masyarakat yang bermukim di sekitar taman nasional sebagian besar bersuku Sunda Banten. Di kalangan masyarakat ini masih berkembang cerita rakyat, seperti kisah tentang Prabu Kiansantang, Prabu Tajimalela, Nyi Pohaci, Sanghyang Sri, Nyi Mas Mayang Sari, Nyi Buyut Maya, Ki Buyut Akram.

Sebagai suatu destinasi wisata, Taman Nasional Ujung Kulon menawarkan banyak sekali ragam kegiatan wisata yang lain daripada yang lain. Keragamannya ini membuat taman nasional ini tidak dapat dijelajahi hanya satu atau dua hari saja. Tidak salah jika taman nasional ini sangat berpotensi untuk menjadi destinasi wisata unggulan di Provinsi Banten; tidak hanya bagi wisatawan domestik, tapi juga wisatawan mancanegara.

Akses menuju Taman Nasional Ujung Kulon

Perjalanan menuju Labuan (Kantor Balai Taman Nasional Ujung Kulon) dari Jakarta atau Bogor dapat ditempuh melalui jalan darat, baik dengan menggunakan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi, dengan alternatif sebagai berikut:

  1. Jakarta – Serang (jalan Tol) – Pandeglang – Labuan, jarak ± 135 km selama ± 4  jam.
  2. Jakarta – Cilegon (jalan Tol) – Anyer – Labuan, ± 155 km ± 4 jam.
  3. Bogor – Rangkasbitung – Pandeglang – Labuan, ± 160 Km ± 4 jam.

Dari Labuan menuju Taman Nasional Ujung Kulon dapat ditempuh melalui jalan darat atau laut dengan menggunakan kapal motor/speed boat sewaan :

  1. Labuan – Sumur – Tamanjaya (darat) jarak ± 90 Km ± 4 jam, dilanjutkan laut

(Tamanjaya – Pulau Handeuleum) ± 40 menit, (Tamanjaya – Pulau Peucang) ± 2 ½ jam.

  • Labuan –Tamanjaya (laut) selama ± 4 jam.
  • Labuan – Pulau Handeuleum (laut) selama ± 4 jam.
  • Labuan – Pulau Peucang (laut) selama ± 5 jam

Menuju Taman Nasional Ujung Kulon (dengan kapal motor/speed boat) :

  1. Jakarta – Tamanjaya, (± 223 Km) ± 8 jam.
  2. Jakarta – Pulau Handeuleum, (± 226 Km) ± 8 jam.

Tarif Masuk Taman Nasional Ujung Kulon

Tarif masuk Taman Nasional Ujung Kulon diatur berdasarkan PP No 12 Tahun 2014. Detil mengenai tarif tiket masuk resmi Taman Nasional Ujung Kulon adalah sebagai berikut. Harga tarif masuk ini dapat berubah sewaktu-waktu.

  • Perorangan dan umum (per orang)
    • Tiket Masuk
      • Tiket masuk WNI (hari kerja) : Rp 5.000,- /hari
      • Tiket masuk WNI (hari libur) : Rp 7.500,- /hari
      • Tiket masuk WNA (hari kerja) : Rp 150.000,- /hari
      • Tiket masuk WNA (hari libur) : Rp 225.000,- /hari
      • Asuransi Kecelakaan : Rp 3.000,- /hari
    • Tiket Kegiatan (per orang)
      • Berkemah : Rp 5.000,- /hari
      • Penelusuran hutan (tracking,hiking,climbing): Rp 5.000,- /kegiatan
      • Pengamatan kehidupan liar: Rp 10.000,- /kegiatan
      • Menyelam: Rp 25.000,- /hari
      • Snorkeling: Rp 15.000,- /hari
      • Kano / bersampan: Rp 25.000,- /hari
      • Selancar: Rp 25.000,- /hari
      • Memancing: Rp 25.000,- /hari
  • Rombongan (Pelajar/Mahasiswa minimal 10 orang)
    • Tiket Masuk
      • Tiket masuk WNI (hari kerja) : Rp 3.000,- /hari
      • Tiket masuk WNI (hari libur) : Rp 4.500,- /hari
      • Tiket masuk WNA (hari kerja) : Rp 100.000,- /hari
      • Tiket masuk WNA (hari libur) : Rp 150.000,- /hari
      • Asuransi Kecelakaan : Rp 3.000,- /hari
    • Tiket Kegiatan (per orang)
      • Berkemah : Rp 2.500,- /hari
      • Penelusuran hutan (tracking,hiking,climbing): Rp 2.500,- /kegiatan
      • Pengamatan kehidupan liar: Rp 5.000,- /kegiatan
      • Menyelam: Rp 15.000,- /hari
      • Snorkeling: Rp 10.000,- /hari
      • Kano / bersampan: Rp 15.000,- /hari
      • Selancar: Rp 15.000,- /hari
      • Memancing: Rp 15.000,- /hari
  • Transportasi
    • Kapal cepat (kapasitas max 8 orang) : Rp. 4.500.000,-/malam berangkat dari Carita  (harga dapat berubah)
    • Kapal biasa (kapasitas max 20 orang) : Rp. 3.500.000,-/malam berangkat dari Sumur / Taman Jaya (harga dapat berubah)

Tarif ini bisa berubah sewaktu-waktu. Taman Nasional juga memungut biaya tersendiri untuk pengambilan gambar atau video komersial,  kegiatan penelitian, tarif masuk kendaraan air, dan tarif untuk penyedia sarana pariwisata. Selain tarif, untuk melakukan kegiatan-kegiatan khusus tersebut kalian harus memenuhi persyaratan untuk mendapatkan izin dari Kantor Balai Taman Nasional Ujung Kulon.

Untuk informasi terkini mengenai tarif, akomodasi, aksesibilitas, dan hal lainnya terkait Taman Nasional Ujung Kulon, langsung hubungi saja kantor balai:

Kantor Balai Taman Nasional Ujung Kulon
Jl. Perintis Kemerdekaan No.51 Kec. Labuan,
Kab. Pandeglang, Provinsi Banten. 42264,
Indonesia

Telp. +62253-801731 Fax. +62253-804651
Email : balai_tnuk@yahoo.cominfo@ujungkulon.org
Website: ujungkulon.org

Sumber:
https://www.wwf.or.id/program/spesies/badak_jawa/
ujungkulon.org
Pariwisata Alam 51 Taman Nasional di Indonesia, Kluster Jawa, Oase di Keriuhan Manusia. Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi.

Artikel ditulis oleh:
Kang Fajrin,
Pengurus website Jelajah Garut, Kopi 76, sekaligus blogger di website pribadinya, kangfajrin.id.
Kunjungi juga riset kecilnya Kang Fajrin agar menjadi Orang Paling Ganteng di Garut

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *